Senin, 17 Oktober 2016

Temu Teknis Penyuluh Pertanian Tingkat Kecamatan Tahun 2016 Di BP3K Masmambang Kec. Talo Kab. Seluma

Kepala BP4K Seluma Ir. H. Wahidin Dahlan bersama Koordinator BP3K Masmambang Yrfta Sumani, SP, Koordinator POPT Kab. Seluma Rasid, SE beserta Sekcam Kec. Talo dalam acara Temu Teknis Tingkat Kecamatan di BP3K Masmambang

Kamis, 11  April  2016 BP4K Seluma menyelenggarakan  Temu Teknis Penyuluhan Tingkat Kecamatan di BP3K Masmambang Kec. Talo. Temu Teknis ini dihadiri perwakilan Koptan dan Gapoktan se-Kecamatan Talo, Ulu Talo, Ilir Talo, Talo Kecil, Babinsa (TNI), Penyuluh Pertanian BP3K Masmambang dan BP3K  Ilir Talo. Narasumber dalam Temu Teknis ini berasal dari BP4K, Koordinator POPT Kab. Seluma dan Perwakilan Camat Talo,  Temu Teknis Untuk mencapai sinergitas menuju peningkatan 7 komoditas Strategis Nasional Khususnya di Kecamata Talo, Ulu Talo, Ilir Talo, Talo Kecil.

Peserta Temu Teknis Tingkat Kecamatan di BP3K Masmambang

Dalam sambutannya Kepala BP4K Seluma  Ir. H. Wahidin Dahlan mengatakan bahwa kegiatan ini didanai dari Dana Dekonsentrasi Satker Sekretariat Bakorluh Prov. Bengkulu sehingga diharapkan ada peningkatan pengetahuan tentang teknis kegiatan penyuluhan di lapangan sesuai dengan spesifik lokasi wilayah binaan penyuluh pertanian. Wahidin  menitikberatkan pada acara ini agar petani lebih banyak bertanya kepada pemateri berkaitan dengan masalah yang terjadi di lapangan, terutama kepada POPT mengenai Hama Penyakit Tanaman

Petugas POPT Rasid, SP Koordinator POPT Kab. Seluma saat menyampaikan materinya

Pada pertemuan ini materi tentang hama dan penyakit disampaikan oleh Petugas POPT Rasid yang merupakan Koordinator POPT Kab. Seluma. Acara terasa hidup karena untusiasme peserta sangat tinggi apalagi mengenai materi tentang Hama penyakit tanaman. (Sazuli, S.Pt)                                                                                           

Budidaya Buah Naga/ Dragon Fruit (Hylocereus spp.) Di Pekarangan Rumah



Budidaya Buah Naga / Dragon Fruit (Hylocereus spp) merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani, serta pemanfaatan lahan pekarangan rumah yang tidak produktif dengan menanam buah naga, maka pundi-pundi rupiah akan mengalir dihalaman rumah. Teknologi yang sederhana, daya serap pasar yang tinggi merupakan kelebihan usaha Budidaya Buah Naga dibandingkan komoditas buah lainnya. Buah naga ditanam di pekarangan bisa memberikan keidahan dan kesejukan sehingga lingkungan rumah kita menjadi lebih asri dan sehat.
Buah naga memiliki khasiat sebagai penyeimbang kadar gula darah, pencegah kanker usus, pelindung kesehatan mulut, mengurangi kolesterol, mencegah pendarahan, obat keluhan keputihan dan memperbesar daya kerja otak anak, selain itu dapat juga digunakan untuk mengurangi penyakit asam urat dan tekanan darah tinggi, khasiat ini diperoleh lantaran buah naga sangat kaya akan vitamin C, mineral dan Serat.
Buah naga berasal dari Mexico, Amereka Tengah dan Amerika Selatan. Tanaman ini bisa ditanam didataran rendah, pada ketinggian 20-500 m diatas permukaan laut. Tanaman  ini sudah lama dimanfaatkan buahnya untuk konsumsi segar, tanaman ini merupakan tanaman memanjat, sifat tanaman epifit, secara morfologi tanaman ini termasuk tanaman tidak lengkap, karena tidak memiliki daun,bunga buahnya berwarna putih serta bentuknya mirip bunga Wijaya Kusuma, kuncup bunga yang sudah berukuran panjang 20-30 cm akan mulai mekar pada malam hari sekitar pukul 18.00, bunga mekar penuh pada sekitar tengah malam. Bunga buah naga menyerupai seperti terompet memanjang yang menyebarkan bau yang harum, bunga buah naga yang tidak terjadi pembuahan dapat dimanfaatkan untuk pembutan tah bunga buah naga dengan rasa yang enak dan menyegarkan.
Buah bentuk bulat panjang serta berdaging merah keungu-unguan dan sangat manis dan legit,  letak buah biasanya mendekati ujung cabang atau batang. Kulit buahnya dipenuhi sisik yang dianologikan sebagai sisik seekor ular naga, beratnya sekitar 200 gram sampai 800 gram. Biji berwarna hitam dengan berukuran kecil dan bulat, kulit biji sangat tipis, tetapi keras. Biji merupakan organ perkembangbiakan tetapi jarang dipakai, setiap buah terdapat sekitar 1.200-2000 biji.           Bibit buah naga dapat diperbanyak juga dengan cara stek . Untuk membuat stek dibutuhkan bahan batang tanaman dengan panjang 25-30 cm. Batang tanaman itu ditanam dalam polybag dengan media tanaman berupa campuran tanah,pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Setelah bibit berumur 3 bulan bibit siap dipindah/ditanam di lahan.       Penamanan buah naga dipekarangan rumah adalah sangat sederhana, dengan tahapan sebagai berikut:
  1. Pengolahan Tanah
Tanah dicangkul 20-30 cm dan dibiarkan terbuka agar mendapat sinar matahari langsung, sehingga akan membantu memusnahkan patogen. Lahan untuk menanam buah naga harus gembur dan porous, karena akar buah naga adalah akar permukaan yang menyerap dipermukaan tanah, tanaman ini peka terhadap kekeringan dan akan busuk bila kelebihan air.
  1. Membuat Lubang Tanam
Lubang tanam berukuran 40x40x40 cm dengan jarak tanam/ antar tiang penyangga 2 m x 2,5 m, sehingga dalam 1 hektar terdapat sekitar 2000 lubang tanam penyangga. Setiap tiang/ atau pohon penyangga dibuat  4 lobang tanam dengan jarak sekitar 10 cm dari tiang penyangga. Jika lubang tanam telah dibuat  masukkan media tanam kedalam Lubang tanam lalu disiram. Media tanam berupa kompos, pasir dan tanah dengan perbandingan 10kg:10kg:10kg
  1. Memasang Tiang Penyangga
Buah naga termasuk jenis tanaman merambat sehingga membutuhkan tiang penopang untuk tegakkan tanaman. Tiang penopang bisa mengguanakan tiang dari kayu/ beton dengan ukuran 10×10 cm dengan tinggi 2 m. Tiang ditancapkan kedalam tanah dengan kedalaman 40-50 cm. Dibagian ujung atas kayu/ beton dipasang ban luar motor bekas. Gunanaya untuk menopang dan menggantung cabang-cabang buah naga yang akan berbuah.
  1. Penanaman
Dalam satu lubang  dapat ditanami 4 bibit buah naga, masukkan bibit stek sedalam 10 cm bila panjang stek 50-80 cm atau sekitar 20% panjang bibit bila panjangnya kurang dari 50 cm. Penanaman 4 stek tersebut harus merapat pada tiang penopang secara melingkar. Jarak setiap stek dengan pangkal tiang penopang sekitar 10 cm.posisi merapat ketiang penopang dapat menjamin sulur tanaman memeluk tiang penopang. Setelah itu ikat keempat bibit tersebut pada tiang penopang dengan tali rafia agar tidak mudah jatuh, pengikat bibit itu jangan terlalu eret karena akan dapat merusak  permukaan dan daging bibit.
  1. Perawatan
Pemangkasan tunas cabang bertujuan untuk mengatur pembuahan. Buah naga yang dibiarkan tumbuh subur penuh cabang dibagian cabangnya, akan lambat berbuah dan hanya memperbanyak cabang saja. Cabang boleh dipelihara jika tumbuh pada ujung atas bantang, itupun harus dibatasi agar berat buah naga  mencapai 500-800 gram perbuah. Untuk menghasilkan buah yang berkualitas percabangan harus diatur. Pengaturan cabang yang baik adalah 1-3-5. 1 batang utama 3 cabang utama dan 5 cabang kedua.
Pemangkasan ujung cabang juga merupakan cara untuk mengatur pertumbuhan buah naga. Pemangkasan ujung cabang dilakukan pada cabang utama dan cabang kedua yang menjadi tempat munculnya calon bunga yang nantinya menjadi buah. Cabang yang ujungnya dipotong akan mempercepat pembungaan. Hal ini terjadi karena ujung dan batangnya menjadi tua. Buah naga hanya mau berbuah pada cabang yang telah menua dan tidak ditumbuhi oleh tunas baru. Karena jika tumbuh tunas baru maka  tunas itu harus dipotong.
Pemupukan yang rutin merupakan syarat utama untuk keberhasilan pembuahan buah naga. Pemupukan berkala untuk pertama kalinya diberikan setelah dua minggu setelah pemberian pupuk dasar. Pada waktu itu pertumbuhan tanaman buah naga sudah mencapai tinggi 30 – 40 cm. Jumlah pupuk yang diberikan adalah 40 gram NPK untuk tiap batang tanaman dan dibenamkan kedalam tanah dengaan kedalaman 10 cm serta berjarak 8 cm dari batang.
Pemupukan berkala adalah pemupukan yang dilaksanakan sepanjang tahun dengan interval yang berbeda sesuai dengan kebutuhan tanaman buah naga.pada tahun pertama tanaman buah naga memerlukan pupuk kimia untuk pertumbuhan,setelah tanaman mulai berbuah pemupukan berganti dengan pupuk kandang agar residu bahan kimia tidak tertinggal pada buahnya.
  1. Panen
Buah naga dapat dipanen pertama kali saat tanaman berumur 1 -1,5 tahun. Buah dapat dipanen saat buah mencapai usia 40 hari setelah bunga mekar. Produksi perpohon tanaman umur 1 tahun 2 buah perbulan.
Setelah panen selesai, batang tua yang pernah berbuah harus dipotong agar tumbuh yang batang baru. Biasanya batang baru tumbuh besar dan menghadap kelangit, dengan demikian bunga dengan sepenuhnya dapat menerima sinar matahari kualitas bunga serta buahnya akan lebih baik. Kalau pengaturan bagus, tanaman berumur dua tahun bisa memproduksi 20 buah pertanaman dengan berat kurang lebih 500 gram/ buah.
Cara memetik buah naga sebaiknya tunggu sampai buah benar-benar matang yang ditandai dengan kulit buah yang mengkilap dan berwarna merah dan berbau wangi. Setelah dipetik sebaiknya dibiarkan beberapa lama jangan langsung dimakan, sehingga buah akan terasa lebih manis.

Hama dan Penyakit Tanaman Buah Naga
            Tanaman Buah Naga sebenarnya termasuk tanaman yang tahan banting dan relatif mudah perawatannya. Tetapi tentunya dalam budidaya selalu ada gangguan hama dan penyakit yang menyerang yang bisa mengakibatkan hasil produksi yang tidak maksimal dan bisa mengalami kerugian. Oleh karena itu harus diperhatikan apabila anda menjumpai gangguan hama dan penyakit yang menyerang tanaman buah naga.
Adapun gangguan hama yang menyerang tanaman buah naga yaitu :
  • Tungau
    Hama Tungau (Tetranychus sp.) akan menyerang kulit batang atau cabang yang merusak jaringan klorofil yang berfungsi untuk asimilasi dari hijau menjadi cokelat. Penanggulangannya dengan menyemprotkan Omite dengan dosis 1-2 gr/ltr air yang dilakukan 2-3 kali seminggu.
  • Kutu Putih
Tanaman buah naga yang diserang hama kutu putih (mealybug) pada permukaan batang atau cabang akan berselaput kehitaman dan terlihat kotor. Hama ini bisa dikendalikan dengan menyemprotkan Kanon dengan dosis 1-2 cc/ltr air seminggu sekali pada cabang yang diserang. Biasanya dua kali penyemprotan hama kutu putih sudah hilang.
  • Kutu Sisik
Hama kutu sisik (Pseudococus sp.) umumnya berada pada bagian cabang yang tidak terkena matahari langsung dan cabang yang diserang hama ini akan terlihat kusam. Hama ini juga bisa diatasi dengan penyemprotan Kanon dengan dosis sama dengan pengendalian hama kutu putih pada sela-sela tanaman yang ternaungi atau tidak terkena sinar matahari.
  • Kutu Batok
Hama kutu batok (Aspidiotus sp.) menyerang tanaman dengan mengisap cairan pada batang atau cabang yang menyebabkan cabang berubah menjadi berwarna kuning. Pengendaliannya juga bisa menggunakan cara yang sama dengan pengendalian hama kutu putih dan kutu sisik.
  • Bekicot
            Hama bekicot sangat merugikan tanaman buah naga karena merusak batang atau cabang dengan menggerogotinya dan dapat mengakibatkan cabang busuk. Hama ini disebabkan karena kebersihan kebun yang kurang terjaga.
  • Semut
    Pada umumnya semut akan muncul pada saat tanaman buah naga mulai berbunga. Semut mulai mengerubungi bunga yang baru kuncup dan akan mengakibatkan kulit buah nantinya akan berbintik-bintik berwarna coklat yang tentunya harga buah akan menurun dengan kualitas seperti itu. Pengendaliannya dengan menyemprotkan Gusadrin dengan dosis 2 cc/ltr air.
  • Burung
    Gangguan burung pada buah naga umumnya jarang terjadi dan tidak perlu dikuatirkan. Biasanya menyerang buah yang telah masak pada bagian atas.
Penyakit Buah Naga :
                 Penyakit yang menyerang tanaman buah naga terhitung tidak banyak jenis dan penyebabnya. Meskipun demikian, jika tanaman terserang harus segera diatasi agar tidak menyebar ke tanaman yang lain. Berikut ini penyakit buah naga dan penyebabnya serta tindakan pengobatannya
  • Busuk Pangkal Batang
            Penyakit ini umumnya menyerang pada awal penanaman buah naga, tanaman buah naga sering mengalami pembusukan pada pangkal batang, berwarna kecokelatan dan terdapat bulu putih. Pembusukan tersebut disebabkan oleh kelembaban tanah yang berlebihan sehingga muncul jamur yang menyebabkan kebusukan yaitu Sclerotium rolfsii Sacc. Penyakit ini sering terjadi pada bibit setek yang belum tumbuh akar dalam bentuk potongan.
Pengobatan tanaman buah naga yang terserang penyakit ini dengan penyemprotan Benlate dengan dosis 2 g/ltr air atau menggunakan Ridomil 2 g/ltr air sebulan sekali. Bila muncul gejala kekuningan pada pangkal batang maka segera dilakukan penyemprotan pada seluruh batang dan diutamakan pada pangkal batang yang terserang.
Untuk pencegahan penyakit ini bisa dilakukan pengairan yang disertai dengan penyemprotan fungisida dan Atonik didaerah pangkal batang pada tanaman yang berumur 30 hari pada awal penanaman.
  • Busuk Bakteri
                 Gejala tanaman buah naga yang terserang penyakit ini adalah tanaman tampak layu, kusam, terdapat lendir putih kekuningan pada tanaman yang mengalami pembusukan. Penyakit ini disebabkan oleh Pseudomonas sp. Pengobatannya dengan mencabut tanaman yang sakit, kemudian pada lubang tanam diberi Basamid dengan dosis 0,5-1 g dalam bentuk serbuk kemudian pada lubang tanam tersebut ditanam bibit baru.
  • Fusarium
    Penyakit yang disebabkan oleh Fusarium oxysporium Schl. Gejalanya antara lain cabang tanaman berkerut, layu, dan busuk berwarna coklat. Penanggulangannya dengan menyemprotkan Benlate dengan dosis 2g/liter air dalam seminggu 1-2 kali penyemprotan pada bagian batang dan cabang.

References:  Diolah dari berbagai sumber 
Sazuli, S.Pt 

Manajemen Kesehatan Ternak Ayam Potong (Broiler)


Dalam peternakan unggas terutama ternak ayam potong (Broiler), Selain manajemen pemeliharaan yang baik, manajemen kesehatan ternak juga amat berperan dalam menentukan keberhasilan usaha. Kegiatan manajemen kesehatan terutama meliputi program biosecurity, vaksinasi, dan medikasi.
Biosecurity
            Biosecurity merupakan tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk mengendalikan wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak atau penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang bebas dari berbagai cekaman yang dapat mendukung kesehatan ternak. Penerapan program biosecurity pada lingkungan farm, lingkungan kandang, pekerja kandang, peralatan kandang, serta kendaraan.
            Adapun biosecurity yang baik dan sebaiknya dilakukan dalam suatu peternakan antara lain meliputi :
  • Pencegahan penyebaran penyakit melalui manusia dan kendaraan. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan membatasi lalulintas manusia dan kendaraan serta pemberlakuan proses sanitasi pada pekerja dan kendaraan.
  • Pencegahan penyakit melalui ayam. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan memisahkan ayam yang sakit dengan yang sehat, pengeluaran ayam yang mati secepatnya dari dalam kandang untuk kemudian dimusnahkan.
  • Pencegahan penyakit melalui peralatan. Hal ini dapat dilakukan melalui pembersihan dan pendesinfeksian kandang serta peralatan kandang guna mengurangi mikroorganisme patogen hingga level minimum.Selain itu, Sistem all in all out membantu pencegahan penyebaran penyakit dari ayam tua ke ayam muda.
  • Pencegahan penyakit melalui vektor penyakit. Hal ini dilakukan dengan jalan memberantas keberadaan vektor penyakit dan meminimalisir kontak antara vektor penyakit dan ayam. Vektor penyebab penyakit yang umum terdapat di farm, antara lain rodensia, burung liar, serangga, parasit internal dan eksternal harus diberantas.
Kegiatan biosecurity dapat dilakukan secara ketat, meliputi :
  • Spray desinfektan untuk orang dan mobil yang keluar masuk areal farm dan areal kandang.
  • Wajib mandi bagi pegawai ketika masuk dan keluar areal farm serta sebelum dan sesudah dari kandang.
  • Penggunaan baju transit dan baju kandang khusus bagi pekerja yang keluar masuk kandang.
  • Spray dan dipping desinfektan bagi mobil yang keluar masuk farm
  • Dipping kaki bagi pegawai sebelum masuk ke dalam kandang, spray desinfektan dan pencucian tangan dengan desinfektan yang telah disediakan di-service pen .
  • Sanitasi areal sekitar kandang dengan menggunakan desinfektan 1 kali setiap hari.
  • Sanitasi lingkungan sekali seminggu dengan jalan penyemprotan desinfektan.
Vaksinasi
Vaksinasi merupakan usaha pencegahan terhadap penyakit ternak tertentu dengan memberikan atau menyuntikkan vaksin untuk memberikan kekebalan tubuh ternak terhadap penyakit. Vaksinasi yang tepat dan benar dapat mencegah penyakit pada ayam. Terdapat beberapa faktor penting yang berperan dalam keberhasilan kegiatan vaksinasi , yaitu :
Faktor-faktor dari hewan.
  1. Tipe dan kelas hewan.
  2. Kesehatan hewan.
  3. Maternal antibodi.
  4. Respon terhadap imun.
  5. Individual dan flok.
Faktor-faktor dari vaksin.
  1. Tipe vaksin.
  2. Dosis vaksin.
  3. Rute vaksinasi.
  4. Campur tangan atau gangguan oleh faktor-faktor lain.
  5. Durasi dari munculnya respon imun.
  6. Frekuensi atau banyaknya exposure antigen.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan
  1. Tindakan manajemen:
  • Kebersihan
  • Desinfeksi
  1. Agen-agen imunosupresif:
  • Virus IBD, Marek, dll
  • Mycoplasma
  • Defisiensi nutrisi
  • Mikotoksin (> 20 ppm)
  • Amonia (> 30 ppm)
  • Antibiotik
  • Temperatur dan kelembaban
  • Social stress
Chalenge lapangan (faktor-faktor serangan penyakit dari lapangan)
  1. Faktor-faktor lingkungan
  2. Kualitas air
  3. Kualitas udara
  4. Temperatur (20-35oC)
  5. Kelembaban
  6. Animal density (kepadatan hewan)
            Pelaksanaan Kegiatan vaksinasi dapat dilakukan dengan cara membagi ayam menjadi 2 kelompok besar dalam sekatan. Ayam kemudian digiring ke dalam 2 sekatan yang terbentuk. Vaksinasi dilakukan mulai dari pen terakhir hingga pen pertama. Ayam yang telah divaksinasi diletakan diluar sekatan hingga kemungkinan terjadinya pengulangan vaksinasi dapat diminimalisir.
Medikasi
Medikasi dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik, vitamin dan obat untuk mencegah dan mengobati penyakit yang seringkali menyerang ayam pada masa pemeliharaan. Pemberian antibiotik dilakukan pada ayam ketika ayam terserang penyakit yang bersifat bakterial. Selain itu juga dilakukan pemberian obat cacing dan anti koksidia untuk mengatasi infeksi kedua parasit tersebut.ada 2 jenis vitamin yang umum diberikan pada ayam, yaitu vitamin C dan vitamin pencegah stress.( Sazuli, SPt  )
Sumber : diolah dari berbagai sumber
                                                                      

PUPUK ORGANIK CAIR (Bio Urine)

Pupuk Orgaik Cair Bio Urine Produksi KELOMPOK TANI TERNAK “ TUNAS HARAPAN” DESA SUMBER HARUM, KEC. SUKARAJA

Pembuatan pupuk organik pada dasarnya memanfaatkan bahan-bahan dari alam yang mudah terurai seperti tumbuhan, hewah (kotorannya) serta bahan-bahan lain yang sering disebut bahan organik.
Pupuk organik pada prinsipnya mempercepat proses penguraian / dekomposisi bahan-bahan yang mudah terurai menjadi bahan organik yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan. berikut pembahasan mengenai Pembuatan Pupuk Organik.
Pupuk Cair ini dengan bahan dasar dari bahan urine sapi yang diolah sedemikian rupa melalui proses pengolahan dan fermentasi, pupuk ini sangat cocok untuk segala jenis tanaman, ramah lingkungan karena bahan-bahannya alam, keunggulan pupuk Bio Urine ini antara lain:
  • Mengurangi penimbunan limbah sehingga limbah menjadi bermanfaat
  • Memiliki nilai jual limbah (Kotoran ternak/urine) yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
  • Meningkatkan kesuburan tanah
  • Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
  • Meningkatkan kapasitas Serap air tanah
  • Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
  • Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
  • Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
  • Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
Untuk tanaman pertanian, pupuk urine ini sangat cocok karena hasilnya mampu mengimbangi  pupuk kimia,
Adapun manfaat penggunaan pupuk organik cair/ Bio Urine antara lain:
  • Merangsang pertumbuahan akar
  • Merangsang pertumbuhan cabang
  • Mempertahankan bunga
  • Memperbesar buah
  • Memperkuat batang
  • Mempertebal daun
  • Meningkatkan hasil produksi panen
Keguaan pupuk organik cair/ Bio Urine antara lain:
  • Tanaman Padi
  • Tanaman Cabe
  • Tanaman Sawi
  • Tanaman Kol
  • Tanaman Buncis
  • Tanaman Kacang Panjang
  • Tanaman daun bawang
  • Tanaman Terong
  • Tanaman Kentang
Cara Pembuatan Pupuk Cair (Bio Urine)
Bahan yang disiapkan antara lain:
  • Urine Sapi = 20 liter (sudah disaring)
  • Lengkuas = 0,5 Kg
  • Kunyit = 0,5 kg
  • Jahe = 0,5 Kg
  • Temu Ireng = 0,5 Kg
  • Temu Lawak = 0,5 Kg
  • Kencur = 0,5 Kg
  • Tetes Tebu (Gula Merah)= 1 Kg
  • EM4 = ¼ Liter
  • Urea 1 (satu) sendok makan atau air rendaman kedelai 1 (satu) gelas.
  1. Alat yang dibutuhkan antara lain:
  • Jerigen 35 Liter = 1 Buah
  • Ember = 1 Buah
  • Takaran Liter = 1 Buah
  • Timbangan = 1 Buah
  • Saringan =1 Buah
  • Bak = 1 Buah
  • Blender = 1 Buah
  • Pisau = 1 Buah
  1. Cara Pengolahan
  • Empon-empon tersebut semua dihaluskan dengan Blender atau ditumbuk dicampur dengan air 3-4 liter kemudian direbus sampai mendidih dan didinginkan.
  • Kemudian disaring lalu di campurkan dengan Urine, EM4, Tetes, Urea dan difermentasi selama 21-30 hari.
  • Setiap hari harus diaduk untuk menepis gas yang ada dalam jerigen fermentasi.
  • Setelah proses fermentasi selesai, pupuk Urine ini siap digunakan
  1. Dosis dan Aplikasi Penggunaan
  • untuk dosis dapat di gunakan 3-4 CC untuk diaplikasikan dengan 1 (satu) liter air kemudian disemprotkan, kalau di siram/ kocor menggunakan dosis 1 liter  Bio Urine  dicampur dengan 60 liter air, sebaiknya digunakan pada pagi dan sore hari
  • Cara aplikasi disemprotkan keseluruh bagian tanaman dan dapat pula disiramkan pada bagian akar atau sekitar tanaman
  1. Kandungan
Kandungan  pupuk Bio Urine berdasarkan hasil penelitian Laboraturium  (Lab. BPTP Bengkulu)
  • N : 0,21%
  • P                                 : 2,15 %
  • K                                 : 0,22 %
  • C-Organik                   : 4,82
  • pH                                : 7,13
Sazuli, S.Pt BP4K Seluma

TEMU TEKNIS PENYULUH PERTANIAN TINGKAT KECAMATAN TAHUN 2016 DI BP3K SUKARAJA KECAMATAN SUKARAJA

Foto Bersama Peserta Temu Teknis Tingkat Kecamatan di BP3K Sukaraja Kecamatan Sukaraja

Kamis, 31  Maret 2016 Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan (BP4K) Seluma menyelenggarakan  Temu Teknis Penyuluhan Tingkat Kecamatan di BP3K Sukaraja. Temu Teknis ini dihadiri perwakilan Koptan dan Gapoktan se-Kecamatan Sukaraja, Penyuluh Pertanian BP3K Sukaraja, Koordinator  Penyuluh BP3K Sukaraja. Nara Sumber dalam Temu Teknis ini berasal dari BP4K, POPT Kec. Sukaraja dan Camat Sukaraja,  Temu Teknis Untuk mencapai sinergitas menuju peningkatan 7 komoditas Strategis Nasional Khususnya di Kecamata Sukaraja.
Dalam sambutannya Kepala BP4K Seluma  yang diwakili Muhismana, S.Pi mengatakan bahwa kegiatan ini didanai dari Dana Dekonsentrasi Satker Sekretariat Bakorluh Prov. Bengkulu sehingga diharapkan ada peningkatan pengetahuan tentang teknis kegiatan penyuluhan di lapangan sesuai dengan spesifik lokasi wilayah binaan penyuluh pertanian. Muhismana menitikberatkan pada acara ini agar petani lebih banyak bertanya kepada pemateri berkaitan dengan masalah yang terjadi di lapangan, terutama kepata POPT mengenai Hama Penyakit Tanaman
Pada pertemuan ini materi tentang hama dan penyakit disampaikan oleh Sahran, SP. Petugas POPT Kec. Sukaraja. Acara terasa hidup karena untusiasme peserta sangat tinggi apalagi mengenai materi tentang Hama penyakit tanaman.(Sazuli, S.Pt)

TEMU TEKNIS PENYULUH PERTANIAN TINGKAT KABUPATEN TAHUN 2016 DI BP4K SELUMA

Kepala BP4K Ir. H. Wahidin Dahlan Saat Akan Membuka Acara Temu Teknis Penyuluh Pertanian Tingkat Kabupaten Tahun 2016

Untuk mencapai sinergitas menuju peningkatan 7 komoditas Strategis Nasional di Kabupaten Seluma , salah atu langkah yang ditempuh Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan (Bakorluh) Provinsi  menggelar kegiatan temu teknis penyuluh pertanian Bengkulu yang dilaksanakan di  Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K)  yang diikuti pengurus Perwakilan Kelompok Tani, Gapoktan,  Penyuluh Pertanian, erikanan, Kehutanan, PPK, Babinsa (TNI), KTNA di Kabupaten Seluma dan SKPD Terkait. Narasumber berasal dari BP4K  Seluma, Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kab. Seluma serta Bakorluh Prov. Bengkulu. Kegiatan ini  berlangsung di Aula BP4K Seluma selama 2(dua) hari mulai tanggal 28 – 29 Maret 2016.

Panitia penyelenggara, Mawazin, S.PKP mengungkapkan kegiatan temu teknis Tingkat Kabupaten  ini dilakukan untuk mengkoordinasikan dan menyusun Program dan Kegiatan  Tahun 2016 dalam mendukung peningkatan 7 komoditas Strategis Nasional di Kabupaten Seluma.
Narasumber dari Bakorluh Provinsi Bengkulu, Ir. Tresno saat menyampaikan materinya
Dijelaskan Mawazin, S.PKP , tersusunnya Program  nantinya dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan sekaligus panduan pelaksanaan tugas dan bahan evaluasi kegiatan penyuluhan pertanian.
Kepala Badan, Ir. H. Wahidin Dahlan saat membuka kegiatan tersebut mengatakan dalam mendukung peningkatan 7 komoditas Strategis Nasional yang terdiri dari Komoditas Padi, Jagung, Kedele, Peternakan (Sapi Potong), Tebu, Cabe, Bawang Merah, diperlukan pelaku utama dan pelaku usaha yang berkualitas, andal, serta berkemampuan manajerial, kewirausahaan, dan organisasi bisnis, sehingga mampu membangun usaha tani yang berdaya saing dan berkelanjutan. Maka dalam rangka dalam mendukung peningkatan 7 komoditas Strategis Nasional di Kabupaten Seluma tersebut, terutama untuk Komoditas Padi, Jagung, Kedele, Peternakan (Sapi Potong), Cabe, maka diperlukan upaya khusus peningkatan kinerja penyuluh petanian melalui Temu Teknis penyuluh pertanian untuk melaksanakan kebijakan penyuluhan.
Para Peserta Saat Mengikuti Temu Teknis Tingkat Kabupaten Tahun 2016 di BP4K Kab. Seluma
Wahidin menggambarkan, upaya yang telah  dilakukan untuk mengintensifkan pembangunan pertanian telah memberikan dampak yang positif bagi kinerja pembangunan pertanian di Kabupaten Seluma.
Wahidin  berharap temu teknis penyuluh pertanian ini dapat dijadikan momentum untuk membahas dan menyatukan persepsi terhadap penyelenggaraan penyuluhan pertanian, pengawalan dan pendampingan  penerapan teknologi dan merekomendasikan serta mencari solusi dari berbagai masalah yang timbul ditingkat lapangan. (Sazuli, S.Pt)

SOSIALISASI PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI BP4K KABUPATEN SELUMA

Kepala BP4K Ir. H. Wahidin Dahlan Pada Acara Sosialisasi kebakaran Hutan dan Lahan di BP4K Seluma

Sebanyak 30 orang peserta mengikuti Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Seluma yang bertempat di Aula BP4K Kab. Seluma selama 1 (satu) hari pada tanggal 24 Februari 2016.
Peserta Sosialisasi ini mewakili dari Kelompok Tani Hutan, Tokoh Masyarakat, dan Penyuluh Kehutanin di BP4K Kabupaten Seluma. Narasumber dan fasilitator berasal dari Dinas Kehutanan Kab. Seluma, BKSDA Prov. Bengkulu, BP4K Kab. Seluma
Adapun tujuan dari kegiatan ini agar peserta mampu lebih memahami dampak yang terjadi akibat dari kebakaran hutan dan lahan, bagi petani dan masyarakat kedepannya nanti
Dalam sambutannya sekaligus membuka acara Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2016 Kepala BP4K Kabupaten Seluma Ir. H. Wahidin Dahlan mengatakan Kebakaran lahan yang terjadi di Indonesia, bukan lagi persoalan dalam negeri, tapi menjadi masalah dunia internasional. Berbagai aktifitas pun terganggu. Bandar udara ditutup, kegiatan perkantoran dan sekolah terhambat. Lebih menyedihkan lagi korban jiwa juga berjatuhan. Kebakaran lahan dan hutan telah menim­bul­kan dampak yang besar. Bukan hanya terhadap kehidupan manu­sia, tapi juga kelestarian keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Wahidin menambahkah, yang harus diupayakan penyuluh dan kelembagaan penyuluhan adalah Agar informasi tentang manfaat buka lahan tanpa bakar ini sampai ke masyarakat khususnya para petani/pekebun, tentunya perlu dilakukan upaya yang intensif melalui kegiatan penyuluhan. Sehubungan dengan hal tersebut diharapkan peran dan tugas tenaga penyuluh Kehutanan ditingkatkan terutama dalam menyediakan informasi baik melalui media cetak maupun elektronik tentang: 1) cara dan manfaat buka lahan tanpa bakar: 2) mensosialisasikan Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan dan Undang-Undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan; 3) cara dan pemanfaatan limbah pengolahan lahan/hutan tanpa bakar; 4) mengupayakan kemudahan akses ke sumber informasi, teknologi dan sumberdaya lainnya yang terkait dengan kebakaran hutan dan pencegahannya; 5) membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang dan tantangan dalam melaksanakan pembukaan lahan/hutan tanpa bakar dan dampak kebakaran hutan; 6) menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan hidup; 7) mengembangkan nilai-nilai budaya pembangunan kehutanan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Narasumber dari BKSDA Prov. Bengkulu Gita Puspita, S.Hut saat menyampaikan materinya
Dalam paparannya Narasumber dari BKSDA Prov. Bengkulu Gita Puspita, S.Hut menyatakan Membuka lahan tanpa bakar adalah amanah UU Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan Pasal 26. Dengan cara ini berarti menghindari meningkatnya jumlah emisi CO2, salah satu emisi gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meningkat selama sepuluh tahun terakhir ini, sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia (yang disengaja atau karena lalai) juga karena kondisi yang sangat kering sebagai pengaruh terjadinya perubahan iklim global/makro yang melanda wilayah Indonesia. Kebakaran hutan menjadi ancaman tersendiri bagi negara yang bersangkutan maupun dunia secara umum. Telah dipahami bahwa hutan memegang peranan yang penting bagi keseimbangan hidup di bumi. Rusaknya hutan akan berdampak pada keberlangsungan semua makhluk hidup termasuk manusia. Oleh sebab itu, kelestarian hutan bukanlah sebuah pilihan tetapi sebuah keharusan. Angka statistik menunjukkan adanya fakta bahwa areal hutan hari demi hari semakin berkurang. Salah satu penyebabnya adalah kebakaran, baik itu yang terjadi secara alamiah maupun karena ulah manusia yang sedang membuka hutan/lahan untuk usaha pertanian ataupun perkebunan. Langkah penanggulangan kerusakan dan kebakaran hutan tentunya jangan membuka lahan/hutan untuk keperluan pertanian/perkebunan dengan cara dibakar. Bila hal ini tetap dilakukan bukan hal yang tak mungkin kelak bumi bukan lagi planet yang nyaman untuk dihuni manusia tetapi menjadi bumi yang panas membara
Gita menambahkan Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 pasal 26 tentang Perkebunan, juga telah diamanatkan bahwa “setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara pembakaran yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan”. Pekerjaan dan alat yang dipergunakan serta teknis pelaksanaan dalam pembukaan lahan tergantung pada kerapatan vegetasi dan cara yang digunakan.
Dilanjutkan Gita Untuk membuka lahan tanpa bakar pada areal hutan/semak belukar, hampir sama dengan cara pembukaan lahan tanpa bakar pada areal peremajaan kelapa sawit. Pekerjaan dan alat yang dipergunakan serta teknis pelaksanaannya tergantung pada kerapatan vegetasi dan cara yang digunakan. Ada tiga cara membuka lahan pada areal belukar yaitu cara manual, mekanis dan kombinasi antara manual-mekanis-khemis
Asriwal S, Hut (Kiri) Saat akan akan menyampaikan materinya
Sememtara itu dalam kesempatan yang sama  Asriwal, S.Hut narasumber dari BP4K Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu yang juga beliau adalah alumnus UGM Jogja dan pernah menjadi Juara pertama Penyuluh Kehutanan Teladan Tingkat Provinsi Bengkulu Tahun 2011 dalam kegiatannya Konservasi Alam dan Wahana Lestari memaparkan Hutan dan lahan merupakan sumberdaya alam yang bila dikelola dengan baik dan benar akan sangat bermanfaat bagi pembangunan nasional khususnya pelestarian lingkungan hidup. Namun demikian pengelolaan hutan dan lahan sering diabaikan yang mengakibatkan terjadinya bencana seperti, banjir dan tanah longsor, global warming sehingga merusak lingkungan hidup, menurunkan produksi dan menghambat pelestarian hutan tersebut.
Dilanjutkan Asriwal, beberapa manfaat pembukaan lahan tanpa pembakaran adalah: 1) tidak menimbulkan polusi asap; 2) menurunkan emisi gas rumah kaca (terutama CO2) yang berdampak negatif pada perubahan iklim yang berpengaruh pada stabilitas ekosistem, aktifitas transportasi, komunikasi dan kesehatan manusia; 3) memperbaiki bahan organik tanah, kadar air dan kesuburan tanah terutama di areal yang sudah pernah ditanami sehingga menurunkan kebutuhan pupuk organik; 4) dalam jangka panjang pembukaan lahan tanpa pembakaran akan menjamin kesinambungan secara ekonomi dan ekologi; 5) untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kekeringan yang akan berdampak langsung kepada produksi tanaman, akibatnya hasil panen akan mengalami penurunan; dan 6) untuk pemulihan kualitas lingkungan yang berbasis pembangunan berkelanjutan.
Peserta  Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2016
Melalui Sosialisasi ini di harapkan menjadi bekal  bagi peserta  Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2016 untuk  diaplikasikan  dilapangan bersama para  petani sehingga mampu memejukan petani Indonesia.(Sazuli, S.Pt)