Tampilkan postingan dengan label Materi Penyuluhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Penyuluhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2016

PENGENDALIAN HAMA TIKUS PADA TANAMAN JAGUNG

Hama Tikus
Pict by Ditjenbun.pertanian.go.id

Tikus pada umumnya menyerang pertanaman jagung dilahan sawh setelah pertanaman padi. Tikus mengandalkan indera penciuman, pendengaran, dan indera perasa untuk mendeteksi keberadaan sumber makanan. Tikus juga mempunyai daya reproduksi yang tinggi karena dapat melahirkan sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Populasi tikus dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti sumber air, sarang, dan ketersediaan makanan. Pengendalian habitat tikus harus memperhatikan bioekologi hewan ini.
Tikus menyerang tanaman jagung pada fase generatif atau fase pembentukan tongkol dan pengisian biji. Tongkol yang telah masak susu dimakan oleh tikus hingga tongkol menjadi rusak dan mudah terinfeksi jamur. Bagian yang disukai tikus umumnya pada ujung tongkol sampai bagian pertengahan. Berikut ini beberapa cara untuk mengendalikan  hama tikus pada tanaman jagung:
Pengendalian Hayati: Tikus dapat dikendalikan dengan memanfaatkan predator berupa kucing, anjing, ular, burung elang, dan burung hantu. Penggunaan patogen sebagai agen pengendali  tidak dianjurkan karena berdampak negatif pada manusia.
Sanitasi: Pembersihan dan penyempitan pamatang atau tanggul dapat dilakukan untuk membatasi tikus membuat sarang. Untuk itu pematang atau tanggul dibuat dengan lebar ± 40 cm.
Pict by Antaranews.com
Mekanik: pemagaran pertanaman dengan plastik, pemasangan bubu perangkap, atau gropyokan merupakan tindakan pengendalian mekanik yang dapat dilaksanakan  untuk mengurangi populasi tikus. Penggunaan bambu berukuran 2 m yang pada salah satu bubunya dilubangi, kemudian diletakkan dipinggir pematang saat terbentunya tongkol sampai panen, dapat menipu tikus yang diduga sebagi lobang alamiah. Tikus yang terperangkap kemudian terus dibunuh. Pengusiran tikus dapat pula dilakukan dengan bunyian namun bersifat sementara karena setelah itu tikus akan kembali lagi ke pertanaman.
Kimia: Rodentisida yang biasa digunakan untuk mengendalikan tikus unpan beracun. RMB yang banyak dipasarsakan adalah klarat, Storm, dan Ramortal. Emposan dengan menggunakan bahan fumigasi efektif menurunkan populasi tikus. Jenis bahan fumigasi yang biasa dipakai adalah hydrogen fosfida, karbondioksida, sulfur dioksida, dan metal bromida. (Sazuli)

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Serealia dan berbagai sumber lainya

Senin, 17 Oktober 2016


SALAK merupakan salah satu buah yang sangat populer dikalangan masyrakat kita. Bentuk dan rupa yang khas menjadikan daya tarik tersendiri buah ini. Namun, ada orang yang beranggapan buah ini tidak ada manfaatnya. Padahal buah salak yang memiliki rasa yang manis campur asam dan sepat, bisa bermanfaat bagi tubuh karena di dalamnya terdapat kandungan gizi yang bermanfaat bagi kebutuhan tubuh.
Berikut beberapa khasiat buah salak bagi kesehatan.
Obat Mata
Buah salak ternyata mengandung betakaroten, yang sangat baik untuk memelihara kesehatan mata. Penelitian terakhir menyebutkan bahwa kandungan betakaroten dalam 100 gram salak kurang lebih 5,5 kali lebih banyak dibanding buah mangga, 3 kali lebih banyak dibandingkan jambu biji dan 5 kali dari semangka merah.
Obat Diare
Ketika Anda tidak berhenti-henti BAB atau diare sebaiknya Anda mengonsumsi buah salak ini, karena salak mempunyai serat yang tinggi sehingga dapat mampu mengobati diare.
Membantu Diet
Bagi Anda yang ingin menguruskan badan atau diet, maka buah salak baik untuk Anda konsumsi. Dengan kandungan fitonutrien yang ada di dalam salak dapat membantu diet Anda. Salak juga mempunyai 2 Mg Vitamin C. Kenapa serat bisa membantu? Karena serat bisa membuat Anda lebih cepat kenyang dan tahan lama.
Cemilan Sehat
Salak sering dijadikan sebagai buah yang biasa dihidangkan di meja. Rasanya ada yang manis, asam, sepat, atau campuran ketiganya. Selain rasanya yang enak dan segar ketika dimakan, buah ini juga memiliki kandungan gizi yang bermanfaat untuk kesehatan.(Sazuli)
Sumber: [rika/islampos/kesehatan96/syifa-alqulub/manfaattumbuhanbuah]

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT DENGAN PESTISIDA NABATI

Foto : Proses pembuatan Pestisida Nabati di Desa Lubuk Gilang Kec. Air Periukan Kab. Seluma
 oleh Safrizal dari KKP Seluma

Pestisida nabati atau pestisida alami   merupakan bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang bisa digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan. Pestisida nabati ini bisa berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh, dan bentuk lainnya.
Secara umum, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas. Karena terbuat dari bahan alami atau nabati, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam, sehingga tak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan, karena residu (sisa-sisa zat) mudah hilang.Indonesia ada banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati. Bahan dasar pestisida alami ini bisa ditemui di beberapa jenis tanaman, dimana zat yang terkandung di masing-masing tanaman memiliki fungsi berbeda ketika berperan sebagai pestisida. Dalam upaya pengembangan pestisida nabati ditingkat petani agar mampu dikembangkan diperlukan  strategi antara lain:
  1. Mudah didapat, bahan baku cukup tersedia, berkualitas, kuantitas dan kontinyuitas terjamin
  2. Mudah dibuat ekstrak, sederhana dan dalam waktu yang tidak lama
  3. Kandungan senyawa pestisida harus efektif pada kisaran 3-5% bobot bahan kering
  4. Bahan yang digunakan bisa dalam bentuk segar dan kering
  5. Efek residunya singkat, tetapi cukup lama efikasinya
  6. Sedapat mungkin pelarutnya air bukan senyawa sintetis
  7. Budidayanya mudah, tahan terhadap suhu optimal
  8. Tidak menjadi gulma atau inang hama penyakit
  9. Bersifat multi guna
Dalam pengendalian OPT/ hama dilapangan pestisida menurut jasad sasarannya dapat berperan sebagai:
  1. Insektisida
  2. Pinus (Pinus merkusii)
Bagian : Batang
Pembuatan:
  • Serbuk gergaji kayu pinus dijemur sampai kering
  • Sebarkan ke lahan persemaian pada pagi hari
Sasaran: Wareng batang coklat (menghambat penetasan)
  1. Picung/Kluek (Pagium edule)
Bagian : Buah
Pembuatan:
  • Satu buah picung dihancurkan
  • Rendam dalam satu gelas air selama satu hari satu malam
  • Hasil rendaman tersebut disaring dan dilarutkan dalam sepuluh liter air, disemprotkan
  • Akan lebih efektif dan efisien bila dikombinasikan dengan perekat yuyu atau ketam/laos, kotoran ayam, Bangkai keong mas atau bahan perangkap lain.
Kandungan bahan aktif: Palmitic acid, aloic acid dan linoleic acid
Sasaran: Walang sangit
  1. Sirsak (Annona muricata) dan Tembakau (Nicotiana batacum)
Bagian : Daun, Biji sirsak, dan daun tembakau
Pembuatan: 50 lembar daun sirsak diremas-remas dicampur satu ons tembakau, direndam dalam satu liter air selama 24 jam. Air rendaman disaring dan dilarutkan dalam 28 liter air kemudian disemprotkan akan lebih efektif  bila dikombinasikan dengan perangkap tersebut diatas.
Kandung bahan aktif: Annonain (sirsak), Nikotin (tembakau)
Sasaran: Walang sangit
  1. Gadung (Dioscorea hispida)
Bagian : Umbi
Pembuatan: Umbi gadung seberat 5 kg diparut kemudian direndam  dalam 10 liter air, 1 liter air rendaman dicampur dengan 14 liter air untuk disemprotkan
Kandungan bahan aktif: Diosgenin dan Steroid saponin
Sasaran: Walang sangit
  1. Lengkuas (Alpinia galanga) dan Jahe (Zingiber oficianalis)
Bagian : Rimpang
Pembuatan: Lengkuas dan Jahe ditumbuk atau diparut, kemudian diperas untuk diambil sarinya, selanjutnya dicampur air secukupnya untuk semprotkan  pada areal yang terserang.
Sasaran: Ulat gerayak pada kedelai
  1. Tembakau (Nicotiana tabacum)
Bagian : Daun
Pembuatan: Tembakau sebanyak 9,5 kg dimasukkan kedalam kaleng dan disiram air  panas sebanyak 4 liter, kemudian di diamkam sampai dingin, campuran disaring dan dilarutkan  kedalam air dengan konsentrasi 60 cc per 15 liter air, siap disemprotkan pada tanaman terserang.
Sasaran: Ulat penggulung daun dan ulat gerayak kedelai
Pembuatan: 0,25 kg daun tembakau direbus dengan 5 liter air selama 0,5 jam tambahkan 30 gram sabun lalu disaring. Penggunaan 1 bgian larutan ditambah 4 bagian air
Sasaran: Aphis, Lundi penggerek batang dan wareng batang coklat
  1. Sengon Buto
Bagian : Daun
Pembuatan: 5 kg daun sengon buto direndam dengan air sebanyak 100 liter  selama 24 jam, air rendaman disaring dan  siap disemprotkan  pada tanaman
Sasaran: Belalang daun jagung
  1. Srikya (Annona squamosa)
Bagian : Biji
Pembuatan: Biji yang telah tua ditumbuk sampai halus, tepung yang terbuat  dari 20 butir biji  dicampur dengan  1 liter air
Kandungan bahan aktif: Annonain dan resin
Sasaran: Wareng batang, Aphis  dan ulat kubis
  1. Tuba (Deris Eleptica)
Bagian : Akar dan kulit kayu
Pembuatan: Akar dan kulit kayu ditumbuk dan dicampur air lalu disaring. 6 sendok larutan dicampur dengan 3 liter air
Kandungan bahan aktif: Retenon
Sasaran: berbagai jenis ulat (racun kontak dan perut)
  1. Nimba (Azadirachta indica)
Bagian : daun dan biji
Pembuatan: Biji dan daun ditumbuk (1kg) lalu direbus dengan air 5 liter  dan dinginkan selama 1 malam kemudian disaring
Sasaran: Ulat, kutu, kumbang dan penggerek
  1. Piretrum (Chrysantemum cinerariaefolium)
Bagian : daun dan biji
Pembuatan: konsentrasi piretrin  310 ppm dapat menekan 100%  peletakan telur serangga C. Analis atau serangga kacang hijau, menekan 95% peletakan telur Cricula trifenestrata. Pada D. Polibete, menyebabkan mortalitas larva 73% bila dicampur oleorisin lada mortalitas 96,6%  dengan minyak wijen  mortalitas 83,3%. Bekerja cepat  aman bagi manusia dan hewan peliharaan. Aplikasinya perlu ditambah bahan perekat agar tidak mudah tercuci air hujan.
Kandung bahan aktif: metabolit sekunder piretrin menyerang sistem syaraf serangga
  1. Cengkeh (Eugenia aromatica)
Kandungan bahan aktif: euganol pada bunga, daun dan ganggang bunganya  diaplikasikan dalam bentuk euganol, minyak cengkeh atau tepung daun cengkeh
Sasaran: mengendalikan penyakit busuk pangkal batang vanila dan menekan populasi F. Oxysporum (100 g tepung daun cengkeh/tanaman)
  1. Fungisida
  2. Nimba (Azadirachta indica)
Bagian : Daun dan Biji
Sasaran: Cendawan
Kandung : Azadirachtin, meliantriol dan salanin
  1. Lada (Piper Nigrum)
Bagian : Biji
Sasaran: Cendawan
Kandungan : Alkoloid, Methylpirrolie, pipervatine, piperine, piperioini, chavincine
  1. Bakterisida
  2. Nimba (Azadirachta indica)
Bagian : Daun dan Biji
Sasaran: Bakteri
Kandung : Zadirachtin, meliantriol dan salanin
  1. Picung/Kluek (Pigium edule)
Pembuatan : Konsentrasi 30 gram/liter disemprotkan pada tanaman padi
Sasaran: Penyakit kresek pada padi
  1. Redentisida
  2. Gadung (Dioscorea hispida)
Bagian : Ubi
Pembuatan : Ubi gadung seberat 1 kg diparut ducampur dedak 10 kg dan tepung ikan 1 ons serta sedikit kemiri tambah air semua bahan dicamour dibuat sebagai umpan.
Sasaran: Tikus
Kandungan : Diosginin dan steroid saponin
  1. Kacang Babi (Tephrosia vhogelii)
Bagian : Daun
Pembuatan : Daun kacang babi ditumbuk dicampur dedak dan tepung ikan serta sedikit kemiri tambah air, semua bahan dicampur dibuat sebagai umpan
Sasaran: Tikus
Kandungan : Tephrosin dan deguelin
  1. Nematisida
  2. Lada (Pipernigrum)
Bagian : Biji
Sasaran: Nematoda
Kandungan : Alkoloid, Methylpirrolie, pipervatine, piperine, piperioini, chavincine
  1. Tembakau (Nicotiana tabacum)
Bagian : Daun
Pembuatan: 0,25 kg daun tembakau direbus  dengan 5 liter air selama 0,5 jam ditambahkan 30 gram sabun lalu disaring pengunaan satu bagian larutan ditambah  4 bagian air
Sasaran: Nematoda
Kandungan : Nicotin
  1. Moluskisida
  2. Kacang Babi (Tephrosia vhogelii)
Bagian : Daun
Sasaran: Siput
Kandung : Tephrosin dan deguelin
  1. Sembung (Blumea balsamifera)
Bagian : Daun
Sasaran: Siput
Kandungan : Borneol, Sineol, Limonen
  1. Pinang (Arca cathecu)
Bagian : Biji
Sasaran: Siput Murbey
Kandungan : Oricholine
  1. Repelent
  2. Jengkol
Bagian : Buah
Pembuatan: Buah jengkol diiris-iris kemudian disebarkan kesawah yang berair
Sasaran: Tikus
  1. Serai Wangi
Bagian : Batang
Pembuatan: batang serai wangi ditumbuk lalu disemprotkan pada tanaman dapat dicampur dengan tanaman lain yang bersifat pestisida
  1. Antarktan
  2. Selasih (Ocinum sanctum)
Bagian : Daun dan Bunga
Pembuatan: Satu genggam daun selasih ditumbuk halus dan diberi air 5 ml, kemudian disaring, air saringan tersebut diteteskan  pada kapas lalu dimasukkan perangkap plastik
Sasaran: Lalat buah
Kandungan : Methil leucadendra
  1. Kayu Putih (Melaleuca leucadendra)
Bagian : daun
Pembuatan: Satu genggam daun putih ditumbuk halus dan diberi air 5 ml, kemudian disaring, air saringan tersebut diteteskan  pada kapas lalu dimasukkan perangkap plastik
Sasaran: Lalat buah
Kandungan : Methil eugenol
  1. Pandan (Pandanus sp)
Bagian : Daun
Pembuatan: Satu genggam daun pandan ditumbuk halus dan diberi air 5 ml, kemudian disaring, air saringan tersebut diteteskan  pada kapas lalu dimasukkan perangkap plastik
Sasaran: Lalat buah
Perekat
Labu
Bagian : Buah
Pembuatan: buah labu diparut lalu diperas dan disaring. Air perasan dicampur  dengan perbandingan 5 sendok untuk 1 liter air
Sasaran: Lalat buah
Kandungan : Methil leucadendra

Sumber : Dari berbagai sumber
Oleh : SAZULI, S.Pt






Hijauan Pakan Ternak



Pada dasarnya budidaya hijauan pakan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu budidaya untuk dipotong (Cut and Curry) dan budidaya untuk pengembalaan (Grazing). Penyediaan hijuan untuk potongan pada umumnya dilakukan pada lahan-lahan sempit, dimana areal tanaman pangan mendominasi daerah tersebut, dengan skala pemilikan ternak relatif sedikit yaitu antara 1-4 ekor. Penanaman hijauan didaerah seperti ini hanya dapat dilakukan pada pematang, bibir teras bangku diareal lahan tanaman pangan, atau memanfaatkan areal sempit disamping tanaman pangan.
           Budidaya seperti ini banyak dijumpai diwilayah-wilayah padat ternak dan padat penduduk seperti pulau Jawa, Lampung dan Bali. Sedangkan budidaya padang rumput hanya dapat dilakukan di wilayah-wilayah yang lahannya sangat luas dengan pola pemeliharaan pemeliharaan ternak secara ektensif. Baik dikandangkan maupun tidak dikandangkan. Pola pemeliharaan ternak dengan cara pengembalaan ini cocok untuk wilayah padat ternak tetapi jarang penduduk seperti Indonesia bagian Timur khususnya di NTB dan NTT.
                Sumber Hijauan Pakan
                Di Indonesia hijauan pakan dapat diperoleh disetiap tempat, mulai dari padang rumput sampai pasar-pasar  kumuh ditengah kota besar, untuk wilayah lahan kering pakan yang utama adalah: (a). Padang Rumput; (b) Lahan pertanian pangan; (c) lahan perkebunan dan; (d) lahan kehutanan. Sedangkan untuk wilayah lahan irigasi, sumber hijauan pakan bisa berasal dari pematang dan pinggir saluran irigasi. Didaerah  rawa dan pasang surut, hijauan pakan juga mudah dijumpai, karena untuk habitat seperti itu terdapat jeis-jenis rumput yang bisa tumbuh dengan baik. Di samping itu hijauan pakan dapat juga diperoleh dipinggir jalan dan halaman rumah.
                Halaman rumah juga merupakan sumber hijuanan pakan yang penting. Hal ini disebabkan katena letaknya yang paling dekat dengan kandang. Jenis-jenis hijauan pakan yang ada dihalaman rumah sangat beragam, baik tanaman pangan maupun tanaman pakan, seperti rumput, ubi kayu, pisang, lamtoro, nangka, petai, randu, sengonm gamal, kelor dan sebagainya. Pada tebel ini dapat diperhatikan betapa pentingnya halaman rumah sebagai sumber Hijauan Pakan Ternak (HPT) di Jawa Tengah dan Jawa Timur, baik pada musim hujan maupun musim kemarau.
Pada musim kemarau sebagian besar rumput berasal dari ladang, perkebunan dan halaman rumah, ladang dan tegalan. Untuk hijauan ramban (daun-daunan) pada musim kenarau sebagian besar berasal dari halaman rumah dan ladang. Sedang pada musim hujan berasal dari halaman rumah dan perkebunan.
Potensi Padang Rumput
Sampai sejauh ini tidak ada data luas padang rumput di Indonesia yang pasti. Diperkirakan luas padang rumput di Indonesian berkisar antara 21 sampai 23 juta ha, yang penyebarannya mulai dari Sumatera (diperkirakan terdapat 7 juta ha), sebagian besar padang rumput di Sumatera terdiri atas alang-lang, sedangkan sebagan besar padang rumput yang berada dilahan-lahan berbatu.
                Di lain pihak, ada data yang menunjukkan bahwa luas padang rumput alam(tanpa Vegetasi alang-alang) diseluruh Indonesia tercatat 2 juta ha dengan areal yang paling luas terdapat  di Nusa Tenggara, daya dukung padang  rumput yang tidak terpelihara ini sangat rendah.
Tabel.1 Komposisi sumber HPT yang terdapat dikandang ternak pada musim hujan (MH) dan  musim kemarau (MK) Jawa Tengah dan Jawa Timur (%)
DAS Jerutan Seluna (Jawa Tengah)DAS  Brantas (Jawa Timur)
Sumber HPTMHMKMHMK
Sawah11,45,905,9
Ladang13,041,521,261,6
Tegalan0024,79,4
Halaman15,328,550,717,7
Perkebunan60,524,13,52,9
Lainya0002,6
Sumber : Hijauan Pakan Ternak di Indonesia 2006
                Jenis hijauan yang cocok dibudidayakan dibudidayakan dipadang rumput atau padang pengembalaan harus memiliki pekarangan yang kuat, tahan injakan, tahan renggutan, dan toleran terhadap kekeringan. Beberapa jenis hijauan  unggul yang cocok untuk dibudidayakan untuk potongan dan padang pengembalaan dapat dilihat dibawah ini:
                Dengan kapasitas tampung 0,5 satuan ternak per  ha (ST/ha), ternak yang digembalakan tidak mampu meningkatkan bobot badannya. Padahal di padang-padang rumput yang ditanami rumput unggul dan dipelihara dengan baik, seperti dinegara-negara yang peternakanya sudah mju, dengan kapasitas tampung 3 ST/ha mampu meningkatkan bobot badan sapi dengan 250 gram perhari/ha.
                Dengan kondisi seperti ini, padang rumput di Indonesia diperkirakanhanya mampu menampung 5 sampai 7 juta ST saja, pada hal data tahun 2004 menunjukkan bahwa populasi ternak ruminansia  di Indonesia lebih dari 13 juta ST. Jelaslah bahwa padang rumput yang ada perlu diperbaiki agar dapat menampung ternak lebih banyak lagi.
                Potensi Lahan Pertanian
                Dilihat dari segi potensinya, lahan pertanian yang bisa ditanami dengan TPT (Tanaman Pakan Ternak) sangat luas. Hampir semua lahan kering yang bisa ditanami palawija, bisa juga ditanami rumput potongan yang merupakan rumput introduksi atau rumput unggul. Rumput potongan ini  biasanya mampu menghasilkan hijauan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumput lokal yang terdapat dipadang-padang penggembalaan, pinggir-pinggir jalan, tepi sungai, tepi saluran air dan sebagainya. Rumput dan Leguminose merupakan pakan hijauan yang ditanam dilahan pertanian berfungsi ganda yaitu sebagai pakan ternak yang juga berfungsi babagai tanaman konservasi tanah atau sebagai tanaman pagar pembatas lahan. Namun tidak jarang terdapat lahan pertanian yang sengaja ditanami rumput pakan, khususnya rumput gajah dan rumput gajah terutama dikantong-kantong pemeliharaan sapi perah seperti sapi perah seperti lembang, Ciwedey dan Pengalengan (Jawa Barat) dll.
                Akhir-akhir ini dijumpai juga lahan pertanian tanaman pangan seperti sawah yang  beralih fungsi menjadi kebun rumput, karena menurut petani menanam rumput pakan, khususnya rumput gajah, ternyata lebih menguntungkan dibandingkan dengan menanam padi.
                Produktiviras atau daya hasil rumput pakan yang ditanam dilahan pertanian biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditanam ditempat lain, seperti dihalaman rumah. Pada tabel 4 di bawah ini dirangkum rata-rata bahan kering hijauan  bahan kering  hijauan pakan yang dapat dihasilkan oleh beberapa jenis rumput pakan menurut jenis rumput pakan menurut hasil penelitian di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi Bogor.

Tabel 2. Beberapa contoh jenis Hijauan Pakan Ternak yang cocok untuk padang  penggembalaan
Nama BotaniNama Umum
Untuk Padang Pengembalaan Ringan
Brachiaria humidicolaRumput beha
Andropogon gayanusRumput gamba
Digitaria decumbensRumput pengola
Cenrhrus ciliarisRumput buffel
Stylosanthes sppStilo
Macroptilium atropurpuriumSiratro
Untuk Padang Pengembalaan Sedang
Cloris gayanaRumput rhodes
Brachiaria muticaRumput malela
Cynodon plectostachyusStar grass
Setaria sppSetaria
Desmodium sppDesmodium
Centrocema pubescenCentro
Untuk Padang Pengembalaan Berat
Brachiaria ducumbensRumput signal
Paspalum dilatatumRumput Australia
Paspalum notatumRumput bahia
Cynodon dactylonRumput kawat
Colopogonium muconoidesKalopo
Puerraria phaseloidesPuero
Sumber : Hijauan Pakan Ternak di Indonesia 2006
                Selain sebagai sumber hijauan pakan ternak yang berasal dari rumput, lahan pertanian juga juga mempunyai potensi yang sangat besar sebagai sumber Hijauan Pakan Ternak (HPT) yang berasal dari limbah pertanian , dalam berbagai bentuknya,  baik dari hasil sisa tanaman pangan maupun hasil ikutan atau hasil sampingan tanaman pangan
                Sisa hasil tanaman pangan yang banyak dipakai sebagai HPT antara lain daun dan batang jagung, jerami dan daun kacang tanah dan sebagainya. Sedangkan yang dalam bentuk ikutan adalah dedek padi dan selain merupakan sumber derat juga sumber protein kasar yang tinggi. pada tabel 5 limbah tanaman yang bisa digunakan sebagai pakan ternak.
                Mengingat lahan pertanian, baik lahan kering maupun lahan irigasi, di Indonesia sangat luas, maka potensi tersebut tidak bisa diabaikan.
Potensi Lahan Perkebunan
                Selain dipadang rumput alam, sumber hijauan pakan juga terdapat dilahan-lahan perkebunan. Dari data direktorat perkebunan pada tahun 2004 menunjukkan bahwa terdapat tidak kurang dari 10 juta ha lahan perkebunan rakyat yang berpotensi sebagai sumber hijauan pakan. Yang paling luas adalah perkebunan kelapa rakyat yaitu 3,6 juta ha.
                Pada prinsipnya hampir seluruh areal sub-sektor perkebunan memiliki potensi yang sangat besar dalam penyediaan HPT dan merupakan salah satu sumber  HPT sehingga dapat dimamfaatkan adalah areal perkebunan rakyat.
                Pemanfaatan potensi perkebunan untuk pengembangan sistem integrasi tanaman ternak dapat berupa pemanfaatan lahan diantara tanaman sela sebagai sumber pakan ternak.
                Penanaman leguminosa diperkebunan bukan hal yang baru, karena leguminosa tersebut digunakan sebagai penutup tanah. Tanaman perkebunan memerlukan tanaman sebagai penutup tanah, untuk menjaga kelembaban tanah maupun kesuburan tanah sehingga tanaman pokok (tanaman perkebunan) dapat tumbuh dengan optimal. Berdasarkan sifat tumbuhnya, legumenosa pohon, leguminosa perdu dan legumenosa menjalar.
                Potensi leguminosa menjalar sebagai hijauan pakan perkebunan yang ditanami dengan leguminosa penutup tanah yang sangat baik digunakan sebagai pakan ternak. Di Sumatera dan Kalimantan perkebunan yang berpotensi sebagai sumber hijauan pakan adalah perkebunan karet dan kelapa sawit, sedang di Sulawesi adalah perkebunan kelapa.
                Potensi leguminosa penutup tanah ini sepenuhnya dimanfaatkan, khususnya diperkebunan-perkebunan rakyat, karena walaupun pemiliknya sudah menyadari namun belum dirasakan manfaatnya secara langsung disamping adanya keterbatasan modal untuk melaksanakannya. Perlu disosialisasikan terlebih dahulu secara konferhensif.
Tabel 3. Beberapa contoh jenis Hijauan Pakan Ternak yang cocok untuk ditanam sebagai rumput/leguminosa potongan
Nama BotaniNama Umum
Rumput Potongan
Pannisetum purpuriumRumput gajah
Pannisetum purpuroideRumput raja
Pannisetum maximumRumput benggala
Euchlaena mxicanaRumput mexico
Leguminose potongan
Caliandra calothyrsusKaliandra
Gliricidia sepiumGamai
Laucaena leucocephalaLamtoro
Desmodium rensoniiDesmodium
Stylosanthes sppStilo
Lab-lab purpureusLablab
Calopogonium mucunoidesKalopo
Puerria phaseloidesPuero
Clitoria ternateaKembang Telang
Centrosema pubescensSentro
Sumber : Hijauan Pakan Ternak di Indonesia 2006
                Sebagai penutup tanah (cover crop) biasanya digunakan tanaman leguminosa herba (menjalar), yang juga merupakan tanaman pakan ternak, beberapa tanaman penutup tanah antara lain sentro (Centrosema pubescens; Centrosema plumieri), Kalopo (Calopogonium mucunoides; Calopogonium caeruleum) dan puero atau kudzu (Puerria phaseloides; Puerria thunbergiana) dan Arachis perenian (Arachis pintoi; Arachis glabrata). Arachis sudah banyak digunakan diperkebunan lada dan Vanila.
Tabel 4. Daya hasil bahan kering (ton/ha/th) beberapa jenis rumput yang ditanam di       Bogor
Nama RumputSelang Waktu PanenHasil Bahan Kering Hijauan
Brachiaria humidicola45 hari36-37
Setaria sphacelata45 hari24-37
Digitaria spp45 hari34
Andropogon gayanus45 hari27-28
Panicum muticum40 hari30
Euchlaena mexicana40 hari17-18
Pannisetum purpurium40 hari40-60
Sumber : Hijauan Pakan Ternak di Indonesia 2006
                Diperkebunan tertentu, seperti kopi, teh, kakao diperlukan tanaman pelindung untuk tanaman yang masih muda. Tanaman pelindungyang biasa digunakan adalah tanaman leguminosa pohon, seperti lamtro (Leucaena spp) dan Gamal (Gliricidia maculata) yang banyak digunakan diperkebunan lada.
                Mucuna (koro bengkuk) juga dapat dijadikan tanaman penutup tanah, namun peternak harus hati-hati dalam memanfaatkannya sebagai pakan ternak karena tanaman ini mengandung racun. Harus dilayukan dulu sebelum menetralkan racunnya.
                Tanaman leguminosa yang sering digunakan sebagai penutup tanah pada tanaman perkebunan adalah lab-lab (Lab-lab purpureus) dan kalopo. Masih banyak jenis-jenis Famili leguminose mempunyai manfaat ganda , sebagai pakan ternak dan peutup tanah seperti sentro, peuro dan lainya. Selain itu potensi limbah pertanian seperti kakao, sawit, tebu dan lainya (seperti tabel 5 dibawah) sangat besar bisa dijadikan sebagai pakan ternak.
Tabel 5. Limbah tanaman pangan dan perkebunan yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak
TanamanBagian yang dapat dimakan ternak
PadiDaun, jerami dan dedak
JagungBatang, daun, tongkol dan butir
Kacang TanahJerami dan daun
KedeleJerami dan kulit polong
Ubi KayuDaun dan umbi
Ubi jalarDaun dan umbi
KakaoKulit buah
KopiKulit buah
Jambu MeteBuah semu
PisangBonggol, batang semu dan daun
Kelapa SawitTandan dan lumpur sawit
NanasKulit buah
TebuPucuk tebu
KapasBungkil biji kapuk
KelapaBungkil kelapa
NangkaDaun
JengkolKulit buah
Sumber : Hijauan Pakan Ternak di Indonesia 2006
Mutu Hijuan Pakan Ternak (HPT)
                Mutu hijauan pakan ternak ditentukan oleh berbagai faktor, baik faktor dalam (genetis) maupun faktor luar. Faktor genetis yang paling utama adalah jenis dan spesies. Secara sederhana, pakan ternak dinilai berkualitas tinggi apabila memiliki Protein Kasar (PK) pada rumput-rumputan lebih dari 9%, sementara kandungan PK leguminosa berkisar antara 13-20%.
                Yang dimaksud dengan jenis disini adalah famili. Dimana HPT dari famili kacang-kacangan atau leguminosa biasanya mempunyai kandungan protein yang relatif lebih tinggi dengan HPT rumput-rumputan. Namun di dalam famili rumput-rumputan sendiri mutu hijauan bisa berbeda-beda, tergantung pada spesiesnya. Pada umunya kandungan protein kasar rumput unggul atau rumput intoduksi lebih tinggi dibandingkan rumput lokal.
Tabel 6. Kadar nutrisi beberapa jenis Hijauan Pakan Ternak
Jenis HPTBK (%)SK (%)PK (%)TDN (%)
Rumput gajah18-2229-335-945-57
Rumput raja25-4016-303-551-62
Rumput benggala20-2416-206-846-53
Rumput setaria21-2516-302-343-53
Rumput brachiaria19-229-115-7,547-55
Kaliandra3015-252344-68
Lamtoro gung23-3118-2120-2371-72
Gamal22-279-1219-2265-70
Kembang Telang19-2610-1217-2241-62
Stylosanthes spp17-2210-1313-2036-63
Lablab purpureus19-249-1216-2347-67
Peuraria javanica23-318-1217-2353-65
Sumber : Hijauan Pakan Ternak di Indonesia 2006
                Pada tabel 6 diperhatikan daftar mutu beberapa jenis  HPT, baik dari famili leguminose maupun rumpur-rumputan. Selain kandungan PK, mutuHPT juga ditentukan oleigistible Nuth Serat Kasar (SK), dan nutrisi yang dapat dicerna atau Total Digestible Nutrien (TDN). Dalam kaitan dengan SK, suatu HPT yang memiliki kandungan SK yang relatif rendah dinilai relatif lebih tinggi dibandingkan dengan HPT yang kandungan SK lebih tinggi.
                Pada saat ini sebagian peternak dipedesaan belum memahami pentingnya kualitas pakan. Bagi mereka yang penting adalah kecukupan pakan, bukan kecukupan nutrisi pakan.
                Kebutuhan ternak akan pakan hijauan pakan selain didasarkan pada bobot segar atau bahan kering dapat juga didasarkan pada TDN. Penentuan kebutuhan ternak akan TDN Hijauan agak rumit dan lebih cocok untuk keperluan penelitian atau untuk peternakan skala besar. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan yang cukup sebelum menghitung TDN, misalnya perlu diketahui dulu komposisi bahan kering setiap jenis hijauan seperti yang tertera pada tabel 6.
                Dengan demikin untuk keperluan peternakan skala kecil yang dilaksanakan oleh peternak, penghitungan kebutuhan hijauan dengan TDN dirasakan belum diperlukan karena tidak praktis. Untuk keperluan dilapangan, kebutuhan hijauan pakan ternak untuk ternak cukup didasarkan pada bobot segar atau bahan kering.
                Palatabilitas
                Palatabilitas merupakan salah satu sifat yang penting, karena palatabilitas itu menentukan apakah rumput atau leguminose itu disukai ternak apabila tidak memiliki sifat palatabilitas atau tidak palatabel.
                Ada beberapa faktor yang menentukan tingkat palatabilitas suatu jenis HPT, namun tidak ada hubungan yang jelas antara mutu hijauan dengan palatabilitas, artinya suatu jenis HPT yang kandungan nutrisinya tinggi belum tentu disukai ternak contohnya seperti daun serengan jantan (Flemingia congesta), walau kadar protein kasarnya tinggi namun banyak ternak yang tidak menyukainya, walaupun beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan dibiasakan akhirnya ternak juga mau memakanya. Sebaliknya ada jenis HPT yang nilai nutrisinnya rendah tapi disukai ternak.
                Pada tabel 7 dibawah ini diperlihatkan beberapa jenis HPT dengan tingkat palatabilitasnya masing-masing.
Tabel 7. Palatabilitas dari beberapa Hijauan Pakan Ternak
Jenis HijauanPalatabilitas (%)
Pannisetum purpurium63
Pannisetum purpuroide60
Pannisetum maximum45-47
Euchlaena mxicana52
Caliandra calothyrsus35-45
Gliricidia sepium24,5
Laucaena leucocephala35,41
Stylosanthes spp26-32
Lab-lab purpureus31-42
Calopogonium mucunoides25
Puerria phaseloides35
Clitoria ternatea30-35
Centrosema pubescens42
Sumber : Hijauan Pakan Ternak di Indonesia 2006
Kebutuhan Ternak Akan Hijauan
                Kepadatan populasi ternak ruminansia berpengaruh terhadap keberlanjutan pasokan hijauan. Disuatu wilayah dengan populasi ternak ruminansia yang relatif jarang, masalah kekurangan hijauan pakan tidak sebarat di wilayah yang populasinya ternak ruminansianya padat.
                Rasio antara kepadatan ternak ruminansia dengan luas lahan pertanian juga berpengaruh terhadap sistem produksi hijauan pakan. Dengan demikian berpengaruh juga terhadap keberlangsungan pasokan hijauan pakan. Dipulau Jawa yang sebagian lahan pertanianya sudah beralih fungsi menjadi lahan non-pertanian, dengan populasi ruminansia lebih dari 7 juta ST, sistem padang pengembalaan tidak bisa diterapkan. Sebaliknya di NTB dan NTT sebagian besar ternak ruminansia digembalakan karena padang penggembalaanya masih luas, walau populasi ternak ruminansia juga tinggi. secara umum bisanya penghitungan kebutuhan hijauan pakan didasarkan pada berat bahan segar atau bahan kering, kemudian dibandingkan dengan populasi hijauan yang tersedia dalam potensi hijauan yang tersedia dalam satu tahun (juga atas dasar berat segar atau bahan kering). Setelah itu dapat ditarik kesimpulan apakah daerah tersebut surplus hijauan sehingga populasi ternak masih bisa ditambah, atau defisit hijauan. Apabila defisit, perlu diupayakan agar pasokan hijauan pakan bertambah.
                Namun neraca perhitungan seperti itu ternyata tidak akurat dan dapat menyesatkan, karena terjadi bias sebagai akibat asumsi pasokan hijauan yang dianggap konstan sepanjang tahun padahal produksi hijauan selalu berfluktuasi mengikuti musim. Sebagai akibat timbul kesalahan didalam pendugaan produksi hijauan disuatu wilayah, sehingga berakibat kepada salahnya menghitung daya dukung suatu wilayah. Untuk mengurangi kesalahan seperti itu disarankan untuk menggunakan suatu metode yang lebih akurat, yaitu dengan membuat neraca kebutuhan hijauan pakan sepanjang tahun yang dapat mendukung populasi ternak sepanjang tahun yang dapat mendukung populasi ternak diwilayah tersebut.
                Dengan metode ini dapat dihitung selisih antara produksi HPT dengan kebutuhan ternak setiap bulan, baik pada musim hujanmaupun pada musim kemarau. Karena HPT bisa dari berbagai sumber. Perhitungan potensi hijauan pakan harus memperhatikan pola tanam yang diterapkan dengan cermat. Untuk daerah beririgasi teknis perhitungan relatif lebih mudah, karena pada umumnya lahan beririgasi teknis ditanami tanaman monokultur pada lahan yang sangat luas.
                Sistem pasokan hijauan pakan setiap agroekosistem berbeda satu sama lain. Untuk lahan beririgasi berbeda dengan lahan tadah hujan. Lahan kering dataran rendah  juga berbeda dengan lahan kering dihulu aliran sungai, semuanya tergantung pada pola tanam yang diterapkan pada daerah tersebut.
                Sebagai contoh, lahan kering yang menerapkan pola tanam tumpang sari padi gogo dengan jagung pada musi tanam I (MT I) diikuti dengan tumpang sari jagung dengan kacang tanah pada musim tanam II (MT II) dan kacang tunggak pada musim kemarau  (MK), berbeda dengan yang menerapkan pola tanam monokultur jagung berturut-turut pada MT I dan MT II, diikuti pada MK.
                Faktor-faktor yang mempengaruhi pasokan HPT
                Keberlanjutan pasokan hijauan pakan sangat tergantung pada berbagai faktor, seperti musim, agroekosistem, populasi ruminansia dan pengolahanya. Dengan demikian bagi peternak yang menginginkan terdapatnya ketersedian pakan sepanjang tahun, faktor-faktor tersebut diatas harus menjadi perhatian .
                Dilihat dari sudut pandang klimatologi, diIndonesia Hanya Mengenal dua Musim yaitu Musim hujan dan musim kemarau, tetapi sekarang kondisi musim ini tidak bisa diprediksi lagi,  bahkan sekarang pada bulan Agustus 2010 seharusnya sudah musim kemarau, tetapi terjadi musim hujan. Tapi dari segi pasokan pakan hijauan ternak harus dipertimbangkan juga musim tanam karena pola pasokan Hijauan Pakan Ternak juga ditentukan oleh pola tanam dimana peranan limbah tanaman pangan sangat besar.
                Musim Hujan
                Pada saat musim hujan  biasanya hijauan pakan ternak melimpah sehingga peternak tidak kesulitan mencari. Yang menjadi masalah adalah redahnya kualitas hijauan, pada musim hujan, karena pasokan melimpah banyak hijauan yang tidak sempat dipotong. Lama kelamaan hijauan tersebut  terlalu tua untuk diberikan kepada ternak. Sebagai akibat mutu hijauan pakan menurun karena kandungan pakan menurun karena kandungan serat kasar pada hijauan terlalu tua biasanya terlalu tinggi, sedangkan kandungan proteinya rendah.
                Musim kemarau
                Pada saat musim kenarau produksi hijauan, baik rumput maupun leguminosa menurun. Semakin panjang musim kemarau semakin rendah produksi hijauan. Untuk menjaga kelangsungan pasokan hijauan , biasanya peternak menggunakan daun-daunnan, baik leguminosa maupun non leguminosa seperti lamtoro, gliriside, daun nangka daun pisang dan sebagainya. Apabila musim kemarau sangat panjang peternak bahkan memberikan “batang”  dan bonggol pisang untuk ternaknya. Di NTT peternak memanfaatkan hati batang lontar (putak) untuk pakan sapi. Selain itu juga peternak memberikan jerami padi yang diperolehnya dari persawahan. Masalahnya, bongol dan batang pisang serta jerami padi biasanya mermutu rendah.
                Musim Tanam
                Ketika berlangsung musim tanam biasanya peternak tidak mengalami kesulitan pasokan hijauan pakan karna musim tanam biasanya berimoit dengan musim hujan
                Musim Panen
                Musim Panen tidak terlalu berimpit dengan musim kemarau atau musim hujan. Hal ini sangat tergantung dengan pola tanam yang diterapkan petani. Apabila musim hujan dimulai pada bulan Oktober dan ditanam dilahan kering adalah palawija seperti jagung dan kacang-kacangan, maka pada bulan Januari dan Februari peternak bisanya kelebihan pasokan hijauan yang berupa daun dan batang  jagung atau jerami dan kacang tanah. Apabila musih hujan tidak jelas batasnya, masa panen juga biasanya lebih lama,  bisa mencapai 2-3 bulan. Di lahan kering pada musim tanam kedua (MT II) jenis tanaman yang diusahakan petani biasanya lebih sedikit, sehingga jenis hijauan pakan ternak dari lahan pertanian juga lebih sedarhana.
Daftar Pustaka
Prawiradiputra Bambang,R.2006. Hijauan Pakan Ternak di Indonesia. Badan Penelitian    dan Pengembangan Pertanian Deptan 2006

Sazuli, S.Pt